Selasa, 06 Juni 2023

Islam Di Asia Tenggara


 Sumber: https://www.bacaanmadani.com/2019/08/tahap-tahap-perkembangan-islamdi-asia.html 

Awal mula kedatangan Islam di Asia Tenggara memunculkan perdebatan panjang diantara para sejarawan yang mengkaji sejarah Islam di-Asia Tenggara.[1] Perdebatan tentang awal mula hadirnya Islam di wilayah ini, setidaknya memunculkan beberapa teori, dengan banyak sejarawan yang saling mendukung dan saling membantah. Perdebatan itu berada pada beberapa pertanyaan pokok, kapan, dimana, dari mana, dan oleh siapa, Islam hadir ke Asia tenggara. Perdebatan ini, setidaknya dimulai pada abad ke-19. Ada beberapa teori tentang masuknya Islam ke kawasan Asia Tenggara, seperti teori kedatangan Islam ke Asia Tenggara dari India, Arab dan Persia.[2]

1. Teori India

Teori India yang secara umum menyatakan bahwa Islam berasal dari India. Teori ini pertama kali diungkapkan oleh Pijnappel yang merupakan professor pertama tentang studi Melayu di Universitas Leiden. Pijnappel berargumen bahwa penyebaran Islam ke seluruh Nusantara berafiliasi pada madzhab fiqh Syafi’i Arab dari Gujarat dan Malabar. Hal ini dikarenakan daerah-daerah tersebut sangat sering ditemukan dalam sejarah awal Nusantara. Meskipun demikian, Pijnappel tetap beranggapan bahwa para da’i (proselytizer) yang awal mula menyebarkan Islam adalah orang-orang Arab dari Gujarat dan Malabar, bukan orang-orang India sendiri.[3]

2. Teori Arab

Teori yang dikemukakan oleh Marrison mendukung pendapat yang disampaikan oleh Arnold yang menulis jauh sebelum Marrison. Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Pendapatnya ini didasarkan pada persamaan madzhab fiqh di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas muslim di Nusantara adalah pengikut madzhab Syafi’i, yang juga cukup dominan di wilayah Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia MelayuIndonesia dimana mereka ternyata tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.[4] Adapun beberapa bukti dari teori ini yaitu:

·      1).  Telah ada perkampungan Arab di Sumatera (Barus) pada 625 M (menurut literatur China Tiongkok)

·         2).  Persamaan penulisan dan kesusastraan Asia Tenggara dan Arab

·     3). Karya-karya yang menceritakan pengislaman raja oleh Syeikh dari tanah Arab, misalnya hikayat raja-raja Samudera Pasai mengatakan Raja Malik diislamkan oleh ahli sufi dari Arab yaitu Syeikh Ismail.[1]

3. Teori Persia

Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang di Nusantara berasal dari Persia, bukan India atau Arab. Teori ini didasarkan pada kesamaan unsur budaya Persia, khususnya Syiah yang ada dalam unsur kebudayaan Islam Nusantara, khususnya di Indonesia dengan Persia.[6] Pembangun teori ini adalah P. A. Hoesein Djajadiningrat. Fokus pandangan teori ini tentang masuknya agama Islam ke Nusantara berbeda dengan teori Gujarat dan Mekkah, sekalipun mempunyai kesamaan masalah Gujaratnya, serta Mazhab Syafi’inya. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia. Kesamaan kebudayaan ini dapat dilihat pada masyarakat Islam Indonesia antara lain: Pertama, peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah Saw. Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya. Ketiga, penggunaan istilah Bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian al-Qur’an. Keempat, nisan pada makam Malikus Saleh (1297) dan makam Malik Ibrahim (1419) di Gresik dipesan dari Gujarat. Dalam hal ini teori Persia mempunyai kesamaan mutlak dengan teori Gujarat. Tetapi sangat berbeda jauh dengan pandangan G. E. Morrison. Kelima, pengakuan umat Islam Indonesia terhadap Mazhab Syafi’i sebagai mazhab yang paling utama di daerah Malabar.[7]

Islam masuk ke Asia Tenggara melalui suatu proses damai yang berlangsung selama berabad-abad. Penyebaran Islam di kawasan ini terjadi tanpa pergolakan politik atau bukan melalui ekspansi pembebasan yang melibatkan kekuatan militer, pergolakan politik atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar negeri. Melainkan Islam masuk melalui jalur perdagangan, perkawinan, dakwah dan pembauran masyarakat Muslim Arab, Persia dan India dengan masyarakat pribumi.[8] Perkembangan peradaban Islam di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari proses islamisasi massifnya kerajaan Islam (kesultanan). Berawal ketika raja setempat memeluk Islam, selanjutnya diikuti para pembesar istana, kaum bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Dalam perkembangan selanjutnya, kesultanan memainkan peranan tidak hanya dalam pemapanan kesultanan sebagai sebagai institusi politik Muslim, pembentukan dan pengembangan istitusi-institusi Muslim lainnya, seperti pendidikan dan hukum (peradilan agama) tetapi juga dalam peningkatan syiar dan dakwah Islam.[9]

Para sufí berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk Asia Tenggara setidaknya sejak abad ke-13, sehingga pengaruh Islam keliatan lebih nyata. Hal ini disebabkan oleh karena para sufí tersebut menyampaikan Islam dengan cara yang menarik antara lain dengan menekankan kontiunitas antara budaya dan praktik keagamaan lokal. Misalnya memperkenalkan Islam dengan nuansa tasawuf seperti mengajarkan teosofi sinkretik yang kompleks. Selain itu, mengapa Islam dapat diterima dengan mudah sebagai agama, antara lain karena Islam mengajarkan toleransi dan persamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu menekankan perbedaan derajat manusia, sehingga ajaran Islam sangat menarik perhatian penduduk lokal.[10]

Perkembangan masyarakat Islam di Asia Tenggara, terutama di negara-negara yang tergolong anggota ASEAN, juga kelihatan bervariasi dalam arti berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, karena proses masuknya Islam dan terbentuknya masyarakat yang menganut agama ini di tiap negara di kawasan ini tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan, di samping karena adanya faktor-faktor tertentu lainnya yang terdapat pada masing-masing negara, boleh jadi menyebabkan timbulnya perbedaan dalam perkembang itu.[11] 

Setidaknya ada lima karakteristik Islam di Asia Tenggara:

1.   1. Islam masuk dengan jalan damai yang menjadi dominan secara kultural disamping terjadi proses     Islamisasi secara struktural

2.  2. Letak geografis Asia Tenggara yang strategis mendorong banyak orang asing mengunjunginya  sehingga Asia Tenggara merupakan kawasan yang bersifat terbuka.

3.    3.  Karena kondisi geografis/geopolitis, Islam di Asia Tenggara bersifat variatif dan dinamis.

4.     4. Umat Islam di Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang penduduknya mayoritas beragama   Islam.

5.  5. Fenomena Islam pesisir yang merupakan Islam agama kota yang tidak kaku, terbuka, tidak terkonsentrasi pada orangnya, bersedia menerima perubahan dan sebagainya. Lain halnya dengan karakteristika Islam daratan atau pedalaman yang cenderung statis, formalistik, struktural, dan kaku.[12]



[1] Hairus Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara,” Journal of Islamic History 1, no. 2 (November 27, 2021): 170–199.

[2] Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara.”

[3] Faizal Amin, “Kedatangan Dan Penyebaran Islam DiAsia Tenggara: Telaah Teoritik Tentang Proses Islamisasi Di Nusantara,” Jurnal Analisis Islamisasi 8, no. 2 (2018).

[4] Mumuh Muhsin, “Teori Masuknya Islam Ke Nusantara,” Universitas Padjajaran (2007): h. 4.

[5] Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara.”

[6] Faizal Amin and Rifki Abror Ananda, “Kedatangan dan Penyebaran Islam di Asia Tenggara: Telaah Teoritik tentang Proses Islamisasi Nusantara,” Analisis: Jurnal Studi Keislaman 18, no. 2 (March 1, 2019): 67–100.

[7] Lukmanul Hakim, “DARI PERSIA HINGGA CINA: Diskursus Tentang Teori Kedatangan Islam Di Melayu Nusantara,” Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (June 4, 2018): h. 10.

[8] Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara, Cetakan 1 (Riau: Nuansa Jaya Mandiri Pekanbaru, 2014), hlm. 8

[9] Muhammad Arbain, “Dinamika Perkembangan Pendidikan Islam Di Asia Tenggara,” Borneo International Journal of Islamic Studies Vol. 2(1) (November 2019), https://bijis.iain-samarinda.ac.id.

[10] Agus Kusman, “Islam di Asia Tenggara” (n.d.)

[11] M. Dahlan M., “Dinamika Perkembangan Islam Di Asia Tenggara Perspektif Histori,” Jurnal Abadiyah 13 (2013): h. 114.

[12] Faizal Amin, “Kedatangan dan Penyebaran Islam di Asia Tenggara: Telaah Teoritik Tentang Proses Islamisasi di Nusantara.”

[13] Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara.”

Daftar Pustaka

Agus Kusman, “Islam di Asia Tenggara”

Faizal Amin, “Kedatangan Dan Penyebaran Islam DiAsia Tenggara: Telaah Teoritik Tentang Proses Islamisasi Di Nusantara,” Jurnal Analisis Islamisasi 8, no. 2 (2018).

Faizal Amin and Rifki Abror Ananda, “Kedatangan dan Penyebaran Islam di Asia Tenggara: Telaah Teoritik tentang Proses Islamisasi Nusantara,” Analisis: Jurnal Studi Keislaman 18, no. 2 (March 1, 2019)

Hairus Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara,” Journal of Islamic History 1, no. 2 (November 27, 2021)

Helmiati, Sejarah Islam Asia Tenggara, Cetakan 1 (Riau: Nuansa Jaya Mandiri Pekanbaru, 2014)

Lukmanul Hakim, “DARI PERSIA HINGGA CINA: Diskursus Tentang Teori Kedatangan Islam Di Melayu Nusantara,” Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (June 4, 2018)

M. Dahlan M., “Dinamika Perkembangan Islam Di Asia Tenggara Perspektif Histori,” Jurnal Abadiyah 13 (2013)

Mumuh Muhsin, “Teori Masuknya Islam Ke Nusantara,” Universitas Padjajaran (2007)

Muhammad Arbain, “Dinamika Perkembangan Pendidikan Islam Di Asia Tenggara,” Borneo International Journal of Islamic Studies Vol. 2(1) (November 2019), https://bijis.iain-samarinda.ac.id.

Saleh, “Dinamika Historis dan Distingsi Islam Asia Tenggara.”

 


Kamis, 16 Maret 2023

Dinasti Abbasiyah

Sumber: https://kalam.sindonews.com/read/681461/70/muhammad-bin-ali-arsitek-dinasti-abbasiyah-yang-kampanyekan-ahlul-bait-1644404535


         Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi Muhammad yang bernama Al-Abbas Ibn Abd Al-Muthalib Ibn Hisyam. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah Al-Saffah Ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibnu Al-Abbas.[1] Berdirinya dinasti Abbasiyah berawal sejak merapuhnya kekuasaan Bani Umayyah yang berujung pada keruntuhan Dinasti Umayyah di Damaskus. Dengan segala konflik yang ada pada tubuh Bani Umayyah, menjadikan Bani Abbasiyah maju sebagai pengganti kepemimpinan umat islam. Bani Abbasiyah merasa lebih berhak dari Bani Umayyah atas kekhalifahan islam, sebab mereka adalah dari cabang Bani Hasyim yang secara garis keturunan lebih dekat dengan Nabi.[2] Setelah meruntuhkan Dinasti Umayyah dengan cara membunuh Marwan sebagai khalifahnya pada tahun 750 M, Abu Al-Abbas mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah. Berdirilah sebuah Dinasti menuju kekuasaan yang bersifat internasional, dengan asimilasi corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sabagainya. Al-Saffah menjadi pendiri dinasti Arab islam ketiga setelah Khulafaurrasyidin dan Dinasti Umayyah yang sangat besar dan berusia lama. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) sampai 656 H (1250 M).[3]

Menurut para sejarawan ada lima periode pada masa pemerintahan Daulah Abbasiyah:

1. Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Arab dan Persia pertama.

2. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama.

3. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan Dinasti Bani Buwaihi dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.

4. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan Daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (Salajiqah al-Kubra/Seljuk Agung).

5. Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.[4]

Pada masa Bani Abbasiyah yang lebih dikenal adalah berkembangnya peradaban Islam. Setelah masa Al-Mansur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur lagi karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Banyak para ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradaban Islam ke seluruh dunia. Bagdad ketika itu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan yang tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. [5]

Dinasti Abbasiyah lebih banyak membangun di dalam negerinya terutama pada ilmu pengetahuan seperti: penerjemah buku-buku dari Yunani, Persia dan India dibiayai oleh negara, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan juga terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Hasil dari ilmu pengetahuan itu melahirkan ilmuan-ilmuan diantarannya: Abu Musa Jabir bin Hayyan adalah ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia di abad ke-8 M, Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang menciptakan ilmu Aljabar. Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran yang terkenal di Eropa.



[1] Nunzairina, “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan

Kebangkitan Kaum Intelektual,” Universitas Islam Negeri Islam Sumatera Utara 3 (2020): h. 93.

[2] Nunzairina, “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan Kebangkitan Kaum Intelektual,” h. 93.

[3] Nunzairina, “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan Kebangkitan Kaum Intelektual,” h. 94.

[4] Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, Cetakan 1. (Medan: Perdana Publishing, 2016).

[5] Rina Estu Ratna, “Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah” (Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang 2017).

Daftar Pustaka

Nunzairina. “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan Dan Kebangkitan Kaum Intelektual.” Universitas Islam Negeri Islam Sumatera Utara 3 (2020)

Rina Estu Ratna. “Sejarah Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasiyah.” Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang 2017.

Siti Zubaidah. Sejarah Peradaban Islam. Cetakan 1. Medan: Perdana Publishing, 2016.


Sejarah Islam Di Makkah Dan Madinah

Sumber: https://www.cheria-travel.com/2014/03/pesona-kota-suci-makkah-dan-madinah.html

        Bangsa Arab pra-Islam biasanya disebut Arab jahilyah. Bangsa yang belum berperadaban, bodoh dan tidak mengenal aksara. Namun, bukan berarti tidak seorang pun dari penduduk masyarakat Arab yang tidak mampu membaca dan menulis, karena beberapa orang sahabat Nabi diketahui sudah mampu membaca dan menulis sebelum mereka masuk Islam. Masyarakat Arab lama (sebelum Islam) memiliki keyakinan animisme, ialah sebuah paham yang beranggapan bahwa setiap benda mempunyai roh, dan roh tersebut memiliki kekutan ghaib yang disebut Mana dan dikenal sebagai “Kaum Watsani” yaitu kaum yang mengganggap Tuhan mereka dalam bentuk patung-patung sesembahan yang mereka anggap sebagai perantara dengan Tuhan. Bangsa Arab pra Islam juga mengikuti satu ajaran agama, yaitu agama Ibrahim, agama hanif, agama tauhid yang kelak terejawantahkan dalam ajaran Islam.[1]

Islam datang ke tengah-tengah masyarakat Arab-Jahiliyyah dengan membawa syari'ah (sistem hukum) yang sempurna sehingga mampu mengatur relasi yang adil dan egaliter antar individu manusia dalam masyarakat. Secara prinsip, kemunculan Nabi Muhammad saw. dengan membawa ajaran-ajaran egaliter, dapat dinilai sebagai sebuah perubahan sosial terhadap kejahiliyahan yang sedang terjadi di dalam masyarakat, terutama sistem hukumnya, dengan wahyu dan petunjuk dari Allah swt.[2]

Negara yang dipimpin oleh Nabi Muhammad adalah negara hukum, bukan monarki absolut. Hukum tata negara dan hukum publik yang diterapkan bersifat meyeluruh kepada seluruh lapisan penduduk Madinah dan Nabi Muhammad Saw tetap menghargai kemerdekaan beragama bagi penduduk Madinah dengan tidak memaksakan Islam kepada mereka. Faktor kepemimpin Nabi Muhammad Saw berhasil di Madinah disebabkan karena simpatik dan keterbukaan kaum Anshar terhadap Kaum Muhajirin. Sehingga misi kerasulan dalam proses penyebaran Islam semakin mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu karena ditopang dengan kekuatan politik.[3]

Kepemimpinan Nabi selaku kepala negara itu bertujuan untuk mengatur segala persoalan dan memikirkan kemaslahatan umat secara keseluruhan, dalam rangka pelaksanaan siyasah syar’iyah. Rasulullah SAW melakukan perundingan atau negosiasi terutama dengan kaum kafir Quraisy baik di Mekah maupun Madinah untuk menciptakan keharmonisan sosial. Kerangka kerja konstitusional pemerintahan di Madinah ini kemudian tertera dalam sebuah dokumen terkenal yang disebut dengan “Konstitusi Madinah” atau “Piagam Madinah”. Piagam Madinah adalah undang-undang Negara atau konstitusi pertama yang ada di tanah Arab. Semua komunitas, yang tinggal di Madinah baik Muslim maupun Yahudi bersatu padu dan mentaati bersama konstitusi ini dalam sebauh ikatan sosial (negara).[4]

Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, status sebagai Rasulullah tidak dapat diganti oleh siapapun, tetapi kedudukan Rasulullah yang kedua sebagai pemimpin kaum muslimin harus segera digantikan dan orang pengganti tersebut dinamakan khalifah. Istilah kekhalifahan muncul setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai pemimpin umat islam menggantikan kepemimpinan Rasul Muhammad. kemudian diganti oleh Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, dan kemudian Ali Ibn Abi Thalib. Keempat orang khalîfah tersebut kemudian dalam sejarah Islam dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin.[5]




[1] Muzhiat, “Historiografi Arab Pra Islam,” h. 131.

[2] Ridwan, Chatib, dan Fuad Rahman, “Sejarah Makkah dan Madinah pada Awal Islam (Kajian Tentang Kondisi Geografis, Sosial Politik, dan Hukum Serta Pengaruh Tradisi Arab Pra-Islam Terhadap Perkembangan Hukum Islam),” h. 3.

[3] Faiz Ibrahim dkk., “Konstitusi Madinah dalam Membangun Civil Society,” Jurnal Tapis: Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam 16, no. 1 (2020): h. 5.

[4] Efrinaldi, “Paradigma Politik Islam: Prototipe Negara Madinah dan Prinsip-Prinsip Politik Kenegaraan,” h. 93.

[5] Adnan, “Wajah Islam Periode Mekkah-Madinah dan Khulafaurrasyidin,” h. 95.

Daftar Pustaka

Adnan, Mohammad. “Wajah Islam Periode Mekkah-Madinah dan Khulafaurrasyidin.” Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 5, no. 1 (2019): 85–102.

Efrinaldi. “Paradigma Politik Islam: Prototipe Negara Madinah dan Prinsip[1]Prinsip Politik Kenegaraan.” Al-Imarah: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam 2, no. 2 (2017).

Ibrahim, Faiz, Ali Wakhid, Suhandi, dan Bukhori Abdul Shomad. “Konstitusi Madinah dalam Membangun Civil Society.” Jurnal Tapis: Jurnal Teropong Aspirasi Politik Islam 16, no. 1 (2020).

Muzhiat, Aris. “Historiografi Arab Pra Islam.” Tsaqôfah: Jurnal Agama dan Budaya 17, no. 2 (Desember 2019)

Ridwan, Muannif, Adrianus Chatib, dan Fuad Rahman. “Sejarah Makkah dan Madinah pada Awal Islam (Kajian Tentang Kondisi Geografis, Sosial Politik, dan Hukum Serta Pengaruh Tradisi Arab Pra-Islam Terhadap Perkembangan Hukum Islam).” Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam 7, no. 1 (12 Oktober 2021): 1–20.

Sejarah Peradaban Islam Dan Budaya Lokal

Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5846535/sejarah-perkembangan-peradaban-islam-dalam-tiga-periode-klasik-modern

         Pengertian sejarah mencakup 3 hal: 1. Silsilah, asal usul keturunan, 2. Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, tambo, peristiwa-peristiwa penting yang benar-benar terjadi, cerita-cerita yang berdasar pada kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi, 3. Ilmu pengetahuan atau uraian tentang peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau. Menurut Bernheim, sejarah adalah ilmu yang menyelidiki dan menceritakan fakta-fakta di dalam waktu temporer dan di dalam hubungan dengan perkembangan umat manusia dalam aktivitas mereka (baik individu maupun kolektif) sebagai makhluk sosial di dalam hubungan sebab akibat.[1]

Dalam definisi peradaban yang dimaksud disini yakni Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw yang telah membawa bangsa Arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan diabaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang maju, dan cepat mengembangkan dunia, membina satu kebudayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.[2]

Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi.[3]

Kebudayaan atau peradaban adalah bukti jejak kehidupan manusia sebagai potret perkembangan dan kemajuan mereka yang bersumber dari budi daya untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan hidup mereka dalam berbagai aspek kehidupan yang memiliki unsur dan wujud. Menurut Melville J. Herskovits, ada empat unsur kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan sistem kekuasaan politik. Koentjaraningrat berpendapat bahwa ada tiga wujud kebudayaan, yaitu 1) wujud kebudayaan sebagai kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan lain-lain yang sejenis; 2) wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan 3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.[4]

Dalam penulisan sejarah, metode yang dapat digunakan adalah metode deskriptif, komparatif, dan analisis sintetis. Metode deskriptif ditunjukkan untuk menggambar adanya peradaban Islam tersebut, maksudnya ajaran Islam sebagai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad yang berhubungan dengan peradaban diuraikan sebagaimana adanya, dengan tujuan untuk memahami yang terkandung dalam sejarah tersebut. Metode Komparatif ditujukan untuk membandingkan sebuah perkembangan peradaban Islam dengan peradaban Islam lainnya. Metode Analisis Sintesis ditujukan dengan melihat sosok peradaban Islam secara lebih kritis, ada analisis dan bahasan yang luas serta kesimpulan yang lebih kritis, ada analisis dan bahasan yang luas serta kesimpulan yang spesifik.[5]


 



[1] Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, 15–16.

[2] Siti Zubaidah, Sejarah Peradaban Islam, 17.

[3] Siti Zubaidah, 16.

[4] Suyuthi Pulungan, 17–18.

[5] Sulthon Mas’ud, “Sejarah Peradaban Islam.”

Daftar Pustaka 

Siti Zubaidah. Sejarah Peradaban Islam. Medan: Perdana Publishing, 2016.

Sulthon Mas’ud. “Sejarah Peradaban Islam,” November 2014.

Suyuthi Pulungan. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2017.